Suasana sore ini awalnya berjalan biasa saja. Usai shalat Ashar, para siswa pelan-pelan meninggalkan aula, berkemas, lalu berpamitan pulang. Saya sendiri memilih berada di ruang perpustakaan bersama beberapa siswa yang memanfaatkan waktu menunggu jemputan sambil membaca buku.
Tiba-tiba, keheningan pecah. Terdengar suara gaduh yang begitu bising dari arah jalan raya depan sekolah. Jalanan sedang sangat ramai dan padat. Ketika saya melihat ke luar, asap hitam tebal tampak mengepul ke udara, disusul suara ledakan yang cukup keras.Beberapa warga dan orang-orang di sekitar lokasi tampak panik dan berusaha memecahkan kaca pintu kanan sebuah mobil hitam untuk mengeluarkan pengemudinya yang sudah dalam kondisi tak sadar. Rupanya ledakan tersebut berasal dari ban kiri belakang mobil yang terus berputar dan menggesek jalanan hingga gundul sampai kawat bajanya terlihat. Kondisi mobil rusak parah—bemper depan dan plat nomor polisinya terlepas, sementara kaca depan pecah.
Setelah berhasil dikeluarkan, tubuh pengemudi yang pingsan itu langsung diangkat dan dilarikan ke salah satu ruang kelas, yaitu kelas 7A, untuk pertolongan darurat. Tidak lama kemudian, anggota keluarganya datang membawa mobil untuk membawanya ke Rumah Sakit Urip Sumoharjo. Tampak petugas Babinkamtibmas ikut membantu proses evakuasi pengemudi tersebut ke dalam mobil.
Suasana sekolah semakin mencekam dan histeris. Dari ruang lain, terdengar suara seorang wanita menjerit-jerit kesakitan di dalam kelas 9A. Salah satu siswa kami juga menjadi korban dalam musibah ini. Dari rekaman CCTV yang saya lihat kemudian, siswa tersebut sedang duduk di atas sepeda motor ojek online, lalu tiba-tiba dihantam mobil dari belakang hingga terpental ‘terbang’. Tujuh sepeda motor rusak ringan hingga parah, Honda PCX, Honda Beat Street, Honda Supra Fit, Honda Supra X, Honda Beat, Yamaha Aerox, dan Yamaha Jupiter.
Didampingi beberapa guru, Pak Tugiyo bergerak cepat membawa kedua korban luka ke UGD RS Graha Husada. Tak lama berselang, Kepala MTsN 1 Bandar Lampung, Dr. H. Hamsir, S.Pd., M.Pd.I, langsung menyusul ke rumah sakit. Beliau sempat menelepon saya, namun panggilan tersebut tidak terangkat karena situasi yang sangat krusial. Meski begitu, saya terus berupaya memberikan pembaruan informasi (update) berkala kepada beliau.
Di lingkungan sekolah, dampak kecelakaan masih terasa memilukan: Depan Pos Satpam: Tampak dua orang korban dalam kondisi shock berat, duduk menanti jemputan keluarga. Depan Kelas 7C: Terlihat korban lain yang mengalami luka-luka ringan sedang ditenangkan.
Sebuah mobil polisi double cabin bertuliskan UNIT LAKA LANTAS memasuki halaman MTsN 1 Bandar Lampung, petugas mengidentifikasi korban, dan melakukan olah TKP.
Menjelang waktu Magrib, Pak Tugiyo menghubungi saya dan meminta tolong untuk mengantarkan tas serta sandal milik korban yang sempat tertinggal di dalam mobilnya ke rumah sakit. Saya segera mengambilnya dan bergegas pergi.
Sesampainya di rumah sakit, usai mengambil tiket parkir dan berjalan menuju area parkir, saya tidak sengaja berjumpa dengan Bapak Yan Khairul, suami dari korban. Saya langsung menyerahkan barang-barang milik istrinya kepada beliau. Setelah urusan selesai, saya pamit meninggalkan area rumah sakit untuk perjalanan pulang.
Jujur, sampai detik ini perasaan saya masih sangat shock dan bergetar membayangkan betapa cepatnya musibah itu terjadi di depan gerbang sekolah kami. Semoga para korban segera diberikan kesembuhan dan ketabahan.

No comments:
Post a Comment