Saturday, April 25, 2026

Riuh rendah suasana ruang guru MTsN 1 Bandar Lampung kini tak ubahnya sebuah bejana yang dipaksa menampung air melebihi kapasitasnya. Dinding-dinding ruangan seolah mengeluh, menahan sesak dari napas-napas pengabdi yang berjejal. Akibatnya, "koloni" guru mulai menyebar, mencari suaka di antara deretan buku perpustakaan yang bisu, di sela aroma bahan kimia laboratorium IPA, hingga di sudut-sudut sunyi ruang UKS dan BK.

Harapan sempat merekah saat rencana penataan ulang mencuat. Bayangannya adalah meja-meja ramping yang hemat ruang, dipadu loker-loker kokoh yang akan melahap tumpukan dokumen agar tak lagi berserakan seperti ilalang liar. Namun, realita hadir dalam wujud kayu sepanjang 110 cm. Ukuran yang tanggung—terlalu besar untuk menciptakan ruang baru, namun tak cukup sakti untuk merangkul semua guru dalam satu naungan.

Berikut adalah potret kegelisahan yang tertuang dalam baris-baris pesan di grup WhatsApp:

Fragmen Percakapan: Dilema Kayu Baru

Herman Edy: "Ya, nanti semua meja mau diganti sekaligus. Kita harus bersih, dan petugas harus siap."

Tugiyo: "Pemberitahuan kepada seluruh Bapak/Ibu guru yang mejanya di ruang guru, agar dapat mulai merapikan dan mengikat barang-barang yang masih digunakan agar aman. Karena meja guru hari Jumat sudah datang dan siap mengganti meja lama. Atas kerjasamanya diucapkan terima kasih."

Tugiyo: "Meja guru sudah siap."

Turyadi Abah: "Tak ada pijakan kaki, Pak Tugiyo... 😔"

Dian Desvita:"Meja guru BK diganti juga tidak, Pak? 😊"

Tugiyo: "Ya Bah, nanti ditanyakan dengan pembuatnya."

Tugiyo: (Mengirim foto) "Seperti ini tampak depannya."

Tugiyo: "Mohon maaf Bapak/Ibu, meja yang sudah diganti, meja lamanya ada di aula. Kalau ada yang tertinggal di laci, besok bisa dicek kembali."

Erni  "Bila tidak ada pijakan kaki, rawan rusak. Jadi fungsinya bukan sekadar pijakan kaki, tapi juga sebagai penguat sisi-sisi dinding meja."

Munkhalidah:"Punya BK biar saja meja lama, Pak. 🙏"

Erni :"Ya Mun, meja lama lebih kokoh, lacinya juga besar. 😇"

Lailatush: "Ya, meja lama lebih kokoh, Yuk. Lebih bagus kalau bisa tidak usah ganti."

**[24/4, 17.47] Erni MTs Walas 8H:** "Bagaimana lagi, *lha wong* sudah sampai di ruang guru... *Speechless*."

Aroma kayu baru yang menyengat kini memenuhi ruangan, namun bagi sebagian guru, wangi itu tak lebih manis dari kenangan akan kekokohan meja lama yang telah bertahun-tahun setia menopang jemari mereka dalam mengoreksi masa depan bangsa. Meja-meja baru itu berdiri tegak, namun hampa tanpa pijakan, seolah mencerminkan posisi para guru yang masih menanti kepastian tempat bernaung yang layak.


Friday, April 24, 2026

Catatan Ujian Madrasah 2025/2026

Pagi itu, mentari di Bandar Lampung merangkak naik dengan malu-malu, menyentuh atap-atap gedung MTsN 1 yang masih menyimpan sisa embun. Namun, di balik gerbangnya, denyut kehidupan sudah berpacu lebih kencang dari detak jarum jam dinding. Suasana sekolah tidak lagi hanya riuh oleh canda tawa siswa, melainkan dipenuhi oleh ketegangan yang tertata: perhelatan Ujian Madrasah (UM) tahun ajaran 2025/2026 telah dimulai. Udara pagi yang biasanya tenang kini terasa bergetar oleh frekuensi sinyal digital dan bisikan doa-doa yang melangit dari bibir para pejuang ilmu.



Ujian kali ini bukanlah sekadar barisan meja dan kursi. Dinamika dimulai sejak hari pertama ketika pengumuman dari Bu Puspo memecah keheningan grup WhatsApp panitia. Gedung lama yang biasanya menjadi saksi bisu perjuangan siswa kini tengah bersolek—perbaikan AC memaksa eksodus besar-besaran. Gelombang siswa berbondong-bondong pindah ke gedung baru, membawa gawai di tangan layaknya prajurit membawa perisai. Aroma semen segar dan cat baru di gedung itu berpadu dengan aroma kecemasan yang samar, menciptakan atmosfer yang unik.

Layaknya sebuah mesin besar, gangguan teknis adalah bumbu yang tak terelakkan. Di balik layar monitor, koordinasi antar-guru menjadi jalinan simfoni yang rumit. Suara ketikan jempol di layar ponsel seolah-olah menjadi musik latar yang mendebarkan.

"Ruang 20, AC mati," keluh Pak Ahmad, menggambarkan keringat yang mulai membasahi dahi para siswa saat bergelut dengan teks Bahasa Indonesia.

"Soal menjodohkan tidak terload dari API," lapor Bu Dona, sebuah kalimat teknis yang menggambarkan betapa dunia pendidikan kita kini telah kawin silang dengan teknologi tingkat tinggi.


Namun, di sinilah letak keindahan kebersamaan itu. Pak Yusuf, sang maestro IoT, bergerak cepat seperti kilat digital. "Sudah bisa, silakan reload," titahnya singkat, dan seketika beban di pundak para pengawas luruh. Kesigapan ini adalah napas utama dalam napas digital ujian tahun ini. Masalah demi masalah muncul bak ombak, mulai dari kolom jawaban yang hilang hingga pilihan ganda yang "malu-malu" menunjukkan diri. Namun, setiap ombak berhasil diredam oleh tangan-tangan dingin para guru yang tetap tenang di tengah badai teknis.

Hari-hari berikutnya menjadi parade logika dan ketelitian. Saat mapel Akidah Akhlak dan IPA menyapa, fokus beralih pada detail-detail kecil yang krusial. "Huruf awal kapital," "Satu kata saja," "Tanpa tanda baca," instruksi-instruksi itu bergema secara virtual, memastikan sistem cerdas dapat membaca buah pikir siswa dengan akurat. Ada momen-momen lucu sekaligus tegang ketika siswa bertanya tentang spasi atau penggunaan angka yang harus diubah menjadi huruf. Guru-guru di grup pengawas pun berubah menjadi editor bahasa sekaligus ahli kode dalam waktu bersamaan.

Masuk ke hari ketiga, Matematika dan Fikih hadir menguji daya tahan. Ketegangan meningkat saat kewaspadaan terhadap kecurangan diperketat. Pesan dari Bu Rika mengingatkan para pengawas untuk mengecek "penumpang gelap" berupa ponsel kedua. Di sela-sela itu, aroma hangat konsumsi yang bisa diambil di ruang panitia menjadi oase kecil bagi para guru yang sudah berdiri sejak jam pertama, memastikan setiap token ujian seperti WX4FX hingga E3VEP tersampaikan tepat waktu.

Hingga tibalah hari keenam, babak penutup dengan mata pelajaran IPS. Meskipun beberapa soal sempat "berulah" dengan jawaban ganda atau pilihan yang raib, kebijakan "bonus" menjadi solusi bijak yang menyejukkan. Semua drama digital ini, mulai dari layar yang terkunci hingga ayat-ayat Al-Qur'an yang sempat tak muncul di layar, adalah bagian dari sejarah modernisasi madrasah yang sedang kita tulis bersama.

Ketika pengawas terakhir mengumumkan sesi berakhir, riuh rendah suara napas lega memenuhi koridor gedung baru. Monitor dipadamkan, sinyal-sinyal wifi kembali tenang, dan matahari Bandar Lampung kini tepat berada di atas kepala, menyinari senyum puas para siswa yang telah menuntaskan tugasnya. Ujian Madrasah 2025/2026 bukan hanya tentang nilai di atas kertas digital, melainkan tentang ketangguhan sebuah institusi dalam menghadapi perubahan dan tantangan teknologi. Di balik setiap klik dan refresh, ada dedikasi yang tak terhingga dari para guru MTsN 1 Bandar Lampung yang memastikan bahtera ilmu ini tetap berlayar, meski diterjang ombak teknis sekalipun. Ujian telah usai, namun semangat literasi dan digitalisasi ini akan terus menyala, setangguh tembok-tembok gedung baru yang kini berdiri kokoh di bawah langit Lampung.

***

Thursday, April 16, 2026

Oral Test Grade 9

60 pertanyaan percakapan dalam Bahasa Inggris yang dirancang khusus untuk siswa SMP/MTs 

Category 1: About Yourself (Diri Sendiri)

 1. What is your full name and do you have a nickname?

 2. When and where were you born?

 3. How would you describe yourself in three words?

 4. What is your favorite color and why do you like it?

 5. What is your biggest dream for the future?

 6. What are you really good at? (a talent or a skill)

 7. What is your favorite food that you could eat every day?

 8. What kind of music do you like to listen to?

 9. Do you prefer spending time alone or with friends?

 10. What is one thing you want to change about yourself?

Category 2: Family & Home (Keluarga & Rumah)

 11. How many people are there in your family?

 12. Do you have any brothers or sisters? What are they like?

 13. Who are you closest to in your family?

 14. What is your favorite thing to do with your parents?

 15. What are the rules in your house that you must follow?

 16. Do you have any pets? If not, what pet would you like to have?

 17. What is your favorite room in your house and why?

 18. What does your father/mother do for a living?

 19. What is a special tradition your family has?

 20. Do you usually have dinner together with your family?

Category 3: School Life (Sekolah)

 21. What is the name of your school and what grade are you in?

 22. How do you go to school every morning?

 23. What is your favorite subject and why?

 24. Which subject do you find the most difficult?

 25. Who is your favorite teacher and what makes them special?

 26. What do you usually do during the school break?

 27. Do you join any extracurricular activities or clubs?

 28. What is the best thing about your school?

 29. If you could change one school rule, what would it be?

 30. Do you prefer studying in a group or alone?

Category 4: Friends & Social Life (Teman & Sosialisasi)

 31. Who is your best friend and how did you meet?

 32. What qualities do you look for in a friend?

 33. What do you and your friends usually talk about?

 34. Have you ever had a big argument with a friend? How did you fix it?

 35. What is the most fun thing you’ve ever done with your friends?

 36. Do you prefer hanging out at the mall or at someone’s house?

 37. How do you usually stay in touch with your friends after school?

 38. What would you do if you saw a friend being bullied?

 39. Do you think it’s important to have many friends?

 40. What is a "true friend" according to you?

Category 5: Hobbies & Interests (Hobi & Minat)

 41. What do you like to do in your free time?

 42. Do you like playing video games? What is your favorite game?

 43. Do you enjoy sports? Which sport is your favorite to play or watch?

 44. Do you like reading books? What was the last book you read?

 45. Are you a fan of any movies or TV series?

 46. Do you like drawing, dancing, or singing?

 47. How much time do you spend on the internet every day?

 48. What is your favorite social media platform?

 49. If you could learn a new skill today, what would it be?

 50. Do you prefer indoor activities or outdoor activities?

Category 6: Future & Travel (Masa Depan & Wisata)

 51. What job do you want to have when you grow up?

 52. Which city or country would you like to visit someday?

 53. If you won the lottery, what is the first thing you would buy?

 54. What is the most beautiful place you have ever visited?

 55. Do you prefer going to the beach or to the mountains?

 56. What is your favorite way to travel (car, plane, train)?

 57. If you could meet any famous person, who would it be?

 58. Where do you see yourself in 10 years?

 59. If you could have a superpower, what would it be?

 60. What is one goal you want to achieve this year?


Sunday, April 12, 2026

Wujudkan Pusat Kaderisasi Intelektual, PWNU Lampung Gelar Peletakan Batu Pertama Pesantren Mahasiswa

BANDAR LAMPUNG– Suasana khidmat menyelimuti kawasan Labuhan Dalam, Tanjung Senang, pada Minggu pagi, 12 April 2026. Sejumlah tokoh besar, akademisi, dan pimpinan lembaga Nahdlatul Ulama berkumpul dalam rangka prosesi peletakan batu pertama pembangunan Gedung Pesantren Mahasiswa Nahdlatul Ulama (NU) Lampung.

Acara yang dipandu oleh Ketua Panitia, Prof. Dr. Subandi, M.M., dan Sekretaris Dr. Ryzal Perdana, M.Pd., ini menandai dimulainya pembangunan fisik sarana pendidikan yang telah lama dinantikan sebagai pusat kaderisasi mahasiswa Nahdliyin di Bumi Ruwa Jurai.

Kehadiran Tokoh Intelektual dan Pimpinan Kampus

Prosesi ini menjadi istimewa dengan kehadiran tokoh-tokoh kunci NU Lampung. Terlihat di lokasi, Dr. Puji Raharjo, Prof. Dr. KH. Moh. Mukri, M.Ag., bersama Prof. Dr. Alamsyah, M.Ag., yang turut memberikan restu atas dimulainya pembangunan ini. Kehadiran beliau berdua memberikan bobot spiritual dan intelektual tersendiri bagi proyek strategis ini.

Selain itu, dukungan akademis terlihat nyata dengan hadirnya delegasi dari perguruan tinggi di bawah naungan NU, antara lain:

Universitas Ma’arif Lampung (UMALA): Para pimpinan dan civitas akademika UMALA hadir memberikan dukungan penuh.

ITS NU Lampung: Jajaran pengurus Institut Teknologi dan Sains Nahdlatul Ulama (ITS NU) Lampung juga tampak di lokasi untuk menyaksikan tonggak sejarah ini.

Dr. Ikhsan Mustofa: Kehadiran beliau menambah deretan pakar dan tokoh pendidikan yang mendukung penuh pembangunan pesantren ini.

Dukungan Lintas Sektoral

Tak hanya dari kalangan internal pengurus NU dan akademisi, tokoh agama setempat juga turut hadir. Ketua MUI Kota Bandar Lampung, Dr. Amiruddin, M.Pd.I., Ketua PC LP Maarif NU Lampung, Agus Faisal Ahsya, M.Pd. tampak berada di tengah-tengah undangan, menunjukkan adanya sinergi yang kuat antara ormas keagamaan dalam membangun fasilitas pendidikan di Kota Tapis Berseri.

Simbol Kebangkitan Kaderisasi Mahasiswa

Terletak strategis di Jl. Flamboyan IV (belakang Pondok Al Banin), gedung ini diproyeksikan menjadi pusat pengembangan keilmuan dan keislaman yang moderat. Dalam narasinya, Prof. Dr. Subandi menekankan bahwa pesantren ini akan menjadi wadah bagi mahasiswa untuk memperdalam nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.

 "Ini adalah ikhtiar bersama. Kehadiran para guru besar, pimpinan kampus seperti ITS NU dan UMALA, serta tokoh MUI hari ini adalah bukti nyata komitmen kolektif kita dalam mencetak generasi muda NU yang berwawasan luas," ungkap salah satu panitia di sela acara.


Agenda dan Harapan

Kegiatan yang turut dihadiri oleh seluruh jajaran PWNU Lampung, PW LP Ma'arif, serta perwakilan PCNU dan PC LP Ma'arif se-Provinsi Lampung ini diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin oleh para kiai. Dengan diletakkannya batu pertama ini, diharapkan proses konstruksi dapat berjalan tepat waktu sehingga fungsi pesantren sebagai pusat kaderisasi intelektual dapat segera dirasakan manfaatnya oleh mahasiswa di Lampung.


***



















Monday, April 6, 2026

Laporan Layanan Perpustakaan MTsN 1 Bandar Lampung pada Kamis, 2 April 2026

Kamis, 2 April 2026, Perpustakaan MTsN 1 Bandar Lampung diselimuti atmosfer yang magis. Aroma khas kertas-kertas tua berkelindan dengan deru halus pendingin ruangan, menciptakan simfoni ketenangan yang dijaga ketat oleh Bapak Hartawan dan bimbingan teliti Bapak Winarno. Di balik meja layanan, tim solid yang terdiri dari Parindra Firmando, Rudi Hendrawan, Eko Pepi Irawan, dan Umi Kalsum bekerja dengan harmoni yang sempurna, mencatatkan setiap detak mimpi yang singgah di gerbang ilmu ini.

Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu melalui celah jendela, memantul pada lantai yang bersih mengilap bak cermin, seolah menjadi saksi bisu bagi para pemustaka yang datang bukan hanya untuk membaca, melainkan untuk merajut masa depan.


MOZAIK AKTIVITAS PEMUSTAKA

Nama PemustakaKelasAktivitasKomentar & Cita-Cita
Aisyah Meilani L.9LMembacaBismillah Psikologi; ingin memotivasi orang-orang yang merasakan ketidakadilan.
Jahra Rahma Nurjihan9LMembacaBermimpi menjadi Dosen UGM, meneruskan semangat Gajah Mada.
Erdin9JMembacaMenjelajahi jejak literasi dengan penuh rasa ingin tahu.
Ilham7FLaptopMencari teks pidato Bahasa Inggris untuk bekal menjadi TNI.
Dery Al Biruni N.7FKembali/LaptopMengembalikan kamus; bercita-cita menjadi Ahli Surga.
Riski Ramadan7FLaptopMenggunakan fitur translate untuk menembus batas bahasa.
Rasya Indri9DLaptopBerjuang masuk STAN atau menjadi Dokter Gigi.
Ahmad Zahran Kamil9GMembacaCalon Programmer masa depan yang ingin menciptakan game sendiri.
Khanza Zhafira N.8IKembaliIngin jadi Dokter Forensik, karena baginya mayat pun butuh keadilan.
Anindya Farras7DKembaliMendalami SKI; bercita-cita menjadi Hakim penegak keadilan.
Asyifa7DPinjamMeraih Panduan Pendidikan Antikorupsi untuk benteng integritas.
Alzena Zalfa D.9FPinjamMenggenggam Kamus Bahasa Inggris untuk membuka jendela dunia.
Zaskya Putri P.9FPinjamBergelut dengan logika angka dalam buku Matematika.
Nafiisah Aulia A.8HMembacaIngin menjadi Pramugari agar bisa terbang keliling dunia.
Assifa Khoirunisha8HMembacaMemendam semangat Pengusaha untuk membangun bisnis sendiri.
Zi Hanna8HMembacaIngin menjadi Chef hebat agar bisa menciptakan masakan lezat.
Putri Aryani8HMembacaBercita-cita menjadi Dokter agar bisa membantu sesama.
Syakira Qurrota A.7CLaptopMengisi hari dengan harapan menemukan kebahagiaan masa depan.
Vidia Olivia8HMembacaMeniti jalan menjadi Dokter yang bermanfaat bagi orang banyak.
Regina7CLaptopMengisi formulir masa depan dengan harapan menjadi orang kaya.
Fiorenza7CLaptopBertekad mengisi daftar orang sukses di masa depan.
Nayma Alika A.7CLaptopMenajamkan intuisi dengan cita-cita menjadi Detektif.
Yosi Sintia Dewi8HLaptopIngin jadi Polwan untuk membanggakan orang tua dan keluarga.
Kodam7CKembaliMengenang cita-cita masa kecil menjadi Barman.
M. Rakha Octorindra7CKembali/PinjamBermimpi tentang laut yang luas melalui buku-buku PAK.
Ferly Gunsan Putra8CKembaliIngin jadi Presiden/Hakim/Politisi; bermimpi setinggi langit.

Gema Keadilan dan Binar Ambisi

Hari ini, aroma keadilan terasa begitu pekat. Dari Khanza yang ingin membela hak para jenazah melalui kedokteran forensik, hingga Anindya yang ingin berdiri tegak di kursi hakim. Perpustakaan bukan lagi sekadar tumpukan kertas, melainkan laboratorium tempat karakter ditempa.

Di barisan laptop, jemari para siswa menari lincah. Ada yang mencari pidato, ada yang memburu rumus, dan ada yang sekadar melukis mimpi di jagat maya. Saat lonceng sekolah berdentang pelan, mereka melangkah keluar dengan binar mata yang berbeda—membawa kepingan ilmu yang siap mereka susun menjadi tangga menuju bintang-bintang, sebagaimana pesan dari Bung Karno yang dikutip oleh Ferly. Di MTsN 1 Bandar Lampung, hari ini adalah langkah kecil untuk lompatan besar masa depan.