Riuh rendah suasana ruang guru MTsN 1 Bandar Lampung kini tak ubahnya sebuah bejana yang dipaksa menampung air melebihi kapasitasnya. Dinding-dinding ruangan seolah mengeluh, menahan sesak dari napas-napas pengabdi yang berjejal. Akibatnya, "koloni" guru mulai menyebar, mencari suaka di antara deretan buku perpustakaan yang bisu, di sela aroma bahan kimia laboratorium IPA, hingga di sudut-sudut sunyi ruang UKS dan BK.
Harapan sempat merekah saat rencana penataan ulang mencuat. Bayangannya adalah meja-meja ramping yang hemat ruang, dipadu loker-loker kokoh yang akan melahap tumpukan dokumen agar tak lagi berserakan seperti ilalang liar. Namun, realita hadir dalam wujud kayu sepanjang 110 cm. Ukuran yang tanggung—terlalu besar untuk menciptakan ruang baru, namun tak cukup sakti untuk merangkul semua guru dalam satu naungan.
Berikut adalah potret kegelisahan yang tertuang dalam baris-baris pesan di grup WhatsApp:
Fragmen Percakapan: Dilema Kayu Baru
Herman Edy: "Ya, nanti semua meja mau diganti sekaligus. Kita harus bersih, dan petugas harus siap."
Tugiyo: "Pemberitahuan kepada seluruh Bapak/Ibu guru yang mejanya di ruang guru, agar dapat mulai merapikan dan mengikat barang-barang yang masih digunakan agar aman. Karena meja guru hari Jumat sudah datang dan siap mengganti meja lama. Atas kerjasamanya diucapkan terima kasih."
Tugiyo: "Meja guru sudah siap."
Turyadi Abah: "Tak ada pijakan kaki, Pak Tugiyo... 😔"
Dian Desvita:"Meja guru BK diganti juga tidak, Pak? 😊"
Tugiyo: "Ya Bah, nanti ditanyakan dengan pembuatnya."
Tugiyo: (Mengirim foto) "Seperti ini tampak depannya."
Tugiyo: "Mohon maaf Bapak/Ibu, meja yang sudah diganti, meja lamanya ada di aula. Kalau ada yang tertinggal di laci, besok bisa dicek kembali."
Erni "Bila tidak ada pijakan kaki, rawan rusak. Jadi fungsinya bukan sekadar pijakan kaki, tapi juga sebagai penguat sisi-sisi dinding meja."
Munkhalidah:"Punya BK biar saja meja lama, Pak. 🙏"
Erni :"Ya Mun, meja lama lebih kokoh, lacinya juga besar. 😇"
Lailatush: "Ya, meja lama lebih kokoh, Yuk. Lebih bagus kalau bisa tidak usah ganti."
**[24/4, 17.47] Erni MTs Walas 8H:** "Bagaimana lagi, *lha wong* sudah sampai di ruang guru... *Speechless*."
Aroma kayu baru yang menyengat kini memenuhi ruangan, namun bagi sebagian guru, wangi itu tak lebih manis dari kenangan akan kekokohan meja lama yang telah bertahun-tahun setia menopang jemari mereka dalam mengoreksi masa depan bangsa. Meja-meja baru itu berdiri tegak, namun hampa tanpa pijakan, seolah mencerminkan posisi para guru yang masih menanti kepastian tempat bernaung yang layak.
















