Monday, May 4, 2026

Madinah, Di Ambang Taman Surga

 Senin, 4 Mei 2026, Sore ini, langit Madinah seperti hamparan sutra biru yang tenang, memayungi pelataran masjid yang aromanya senantiasa mencuri hati—perpaduan antara wangi oud yang tajam dan ketenangan yang tak kasat mata. Langkahku terhenti di depan Raudhah, tempat di mana doa-doa seolah berebut terbang menuju langit.


Di sanalah aku bertemu Omar. Suaranya rendah namun berwibawa, seperti deru angin padang pasir yang membawa pesan lama. Kami berdiri bersisian dengan Bapak Muhammadong, seorang jamaah dari Pangkep yang senyumnya setulus tanah Sulawesi.

Percakapan kami mengalir, jernih seperti air zam-zam yang baru saja kusesap. Omar berbicara tentang Al-Qur'an. Ia menekankan bahwa setiap huruf memiliki "rumah" tempatnya pulang—sebuah makhraj yang benar. Baginya, melafalkan ayat suci dengan keliru ibarat memetik dawai gitar yang sumbang; maknanya bisa lari menjauh. Ia membisikkan satu nama: Aiman Suwaid. Katanya, di layar digital YouTube, Syekh itu akan menjadi kompas bagi lidahku agar tidak tersesat dalam mengeja kalam Ilahi.

Sembari jemarinya mengusap jenggotnya yang tertata—sebuah simbol kesetiaan pada Sunnah—ia mengingatkanku bahwa mencintai Rasul bukan hanya soal rasa di dada, tapi juga tentang jejak fisik yang kita rawat. Jenggot itu baginya adalah sebuah deklarasi cinta yang tumbuh di wajah, sebuah penghormatan yang hidup.

Kini, saat mentari mulai pulang ke peraduannya dan menyisakan semburat jingga yang hangat di dinding-dinding marmer, hatiku terasa penuh. Ada getaran halus di ulu hati, sebuah janji pada diri sendiri untuk tidak membiarkan lisan ini hanya sekadar berbunyi, tapi benar-benar mengaji.

Raudhah sore ini bukan hanya tempat bersujud, tapi juga tempat di mana ilmu dan persaudaraan bersemi dalam balutan takdir yang manis.***

No comments:

Post a Comment