Friday, May 1, 2026

Gema Niat di Mushala Namiroh: Menjemput Fajar Keberangkatan

Asrama Haji Bandar Lampung, 1 Mei 2026

Mentari mulai merunduk ke peraduannya saat Mushala Namiroh menjadi saksi bisu berkumpulnya ratusan hati yang berdebar. Angin sore berembus tipis, membawa aroma wangi sajadah dan bisikan doa-doa yang merayap di sela pilar mushala. Di bawah komando Pak A. Saidi, visi dan misi disatukan—bukan sekadar strategi perjalanan, melainkan janji untuk saling menjaga dalam kesuksesan ibadah yang suci.

 Hangatnya Perjamuan dan Tekad yang Bulat

Selepas ashar, suasana asrama kembali riuh dengan denting sendok dan aroma harum nasi panas yang menggugah selera. "Alhamdulillah makan sore," tulis Nilawati, menyambut hidangan yang menjadi energi bagi raga yang mulai lelah namun jiwa yang kian membara.

Diskusi pun mengalir seperti air tenang namun dalam. Pertanyaan tentang Dam Nusuk mencuat di tengah obrolan, dijawab dengan kepastian yang menenangkan oleh Ayah Hubby. Ada sebuah kalimat yang menggema sebagai wujud kepasrahan yang indah: "Kami manut dan turut." Kalimat itu bagaikan sauh yang mengunci kapal di tengah samudera; sebuah bentuk ketaatan mutlak para jemaah kepada pemimpin perjalanan mereka.

 Malam yang Tak Pernah Tidur

Malam kian larut, namun gairah di Kloter 12 justru kian memuncak. Mas Rifya, sang pengawal perjalanan, memberikan komando yang memecah kesunyian malam.

> "Persiapan X-ray pukul 04.00 pagi. Sarapan sudah siap saat fajar menyapa."

Instruksi itu jatuh seperti tetesan embun yang membangunkan kesadaran. Tak ada keluhan, yang ada hanyalah jempol yang terangkat dan ucapan terima kasih yang tulus. Di sudut-sudut kamar, jemari para jemaah sibuk meraba sampul paspor, mencari stiker berwarna sebagai identitas diri: Rombongan 9 dengan warna hitam yang elegan, Rombongan 10 dengan pink yang ceria, dan Rombongan 11 dengan abu-abu yang tenang.

 Menenun Identitas di Balik Seragam

Diskusi terakhir sebelum mata terpejam adalah tentang identitas esok hari. "Pakaian besok wajib batik," tegas Mas Rifya. Bayangan kain batik bermotif indah yang akan dipadukan dengan bawahan putih bersih menjadi penutup percakapan malam itu. Putih yang melambangkan kesucian hati, batik yang membawa kebanggaan negeri.

"Siap kami laksanakan," tutup Pak Toni dengan nada mantap, mengunci segala keraguan.

Kini, Asrama Haji Bandar Lampung perlahan hening. Hanya terdengar detak jam yang seolah menghitung mundur pertemuan dengan rumah-Mu. Di bawah langit Lampung yang bertabur bintang, Kloter 12 beristirahat sejenak, menyiapkan raga untuk menyongsong fajar paling bersejarah dalam hidup mereka. Esok, saat burung-burung baru terbangun, mereka sudah akan melangkah, menjemput Ridho yang tak bertepi.

No comments:

Post a Comment