Friday, May 1, 2026

Menjemput Ridho-Mu di Ambang Fajar: Catatan Regu 40

Asrama Haji Bandar Lampung, 1 Mei 2025

Matahari pagi itu terasa lebih hangat, seolah ikut memeluk doa-doa yang membumbung tinggi ke angkasa. Tepat pukul 09.39 WIB, gerbang Asrama Haji Bandar Lampung menyambut langkah kaki Regu 40 Kloter 12. Di udara, tercium aroma campuran antara wangi parfum setoran doa, debu jalanan yang terbawa koper, dan semerbak harapan yang kian nyata.




Di layar gawai, untaian doa Pak Fadli mengalir tenang seperti sungai yang menyejukkan. "Semoga menjadi haji yang mabrur dan mabruroh," tulisnya. Kalimat itu bukan sekadar teks, melainkan napas yang memompa semangat ratusan calon tamu Allah.


Halaman asrama berubah menjadi lautan manusia yang dinamis. Di depan menara yang menjulang gagah seolah menunjuk ke arah langit, rombongan mulai berkumpul. Suara riuh rendah percakapan beradu dengan derit roda koper di atas aspal.


"Otw menara!" seru Dewi, meski kenyataannya para jemaah menyebar seperti butiran tasbih yang talinya terlepas—ada yang berteduh di bawah tenda depan ruang manasik, ada pula yang "mejeng" di depan karena tak kebagian kursi.

"Tamu kehormatan ya," canda Bude Sri melihat mereka yang berdiri tegak menanti arahan. Tawa pecah, mencairkan ketegangan saraf menjelang keberangkatan.



Siang hari, aroma manis kue dan harum teh hangat menyeruak dari lantai dua. Di sana, suasana kekeluargaan begitu kental, sekental teh yang disesap. Namun, ibadah haji adalah universitas kehidupan. Di kamar 501, sebuah drama kecil namun menyentuh kalbu terjadi.

Ruangan yang seharusnya untuk berempat, sesak diisi lima nyawa. Seorang nenek yang telah senja, tak kuasa berpisah dari tetangganya, Bu Eti. Di sana, di atas sofa yang keras, Bu Eti memilih melipat egonya. Ia menjadi sandaran bagi sang nenek yang sebatang kara tanpa pendamping.


"Dari Ibu Eti saya belajar arti sabar yang sesungguhnya," bisik hati Bu Aliyah, menyaksikan sebuah potret kasih sayang yang lebih harum dari parfum manapun di dunia.


Sore hari diwarnai dengan "insiden romantis" yang memecah suasana. Pak Muhariansyah, dengan segala kepolosan hati, mengirimkan pesan "Iya sayang" yang mendarat di grup regu, bukan di ruang pribadi istrinya.


Grup seketika meledak oleh tawa. "Cie yang disayang-sayang... yang lain jangan iri ya!" goda Bude Sri. Suasana yang tadinya kaku karena urusan kuota internet yang macet atau stiker paspor yang belum di tangan, seketika mencair. Gelak tawa mereka adalah obat lelah paling mujarab, membuat beban di pundak terasa seringan kapas.


Malam kian larut, menyisakan diskusi hangat tentang seragam esok hari. Antara hitam dan putih, antara aturan dan kenyataan baju yang sudah "kecipret" air atau kotor karena saking semangatnya beraktivitas.

"Pakai yang nyaman saja,"pungkas mereka. Karena pada akhirnya, bukan warna kain yang akan dipandang Allah, melainkan putihnya niat yang terpatri di dalam dada.

Satu per satu lampu kamar di lantai 4 dan 5 mulai meredup. Sayup-sayup terdengar ucapan selamat istirahat. Di balik bantal asrama, ada mimpi tentang Ka'bah yang kian dekat. Regu 40 menutup hari dengan satu keyakinan: perjalanan ini bukan tentang siapa yang paling rapi, tapi tentang siapa yang paling tulus berserah diri.

Selamat bobo, para calon haji. Esok, perjalanan sesungguhnya baru saja dimulai.



No comments:

Post a Comment