Friday, May 1, 2026

Mohon do'a



Layar ponsel itu berpendar terang di tengah keriuhan Asrama Haji, menampilkan deretan pesan yang datang bergelombang seperti air zamzam yang menyejukkan hati. Di sela-sela kesibukan mempersiapkan keberangkatan, getaran notifikasi membawa suara-suara penuh kasih dari kejauhan—suara dari mereka yang hanya bisa menitipkan rindu pada pundak kami yang terpilih berangkat.

Pukul tujuh lewat, pesan dari kerabat di Metro masuk dengan nada yang begitu akrab dan hangat. "Kaaakkkk... titip doa yaaaaaa," tulisnya. Kalimat itu bukan sekadar teks hitam di atas layar putih, melainkan sebuah amanah yang berat namun indah. Ia meminta agar di tanah yang mustajab nanti, namanya disebut dalam bisikan rahasia kepada Sang Pencipta: memohon jemputan jodoh yang baik serta harapan agar suatu hari nanti kakinya bisa menapakkan jejak yang sama di tanah suci, menyusul langkah kami.

"Biar afdol," katanya, sebuah ungkapan tulus yang membuat dada ini terasa sesak oleh haru.

Tak lama kemudian, rentetan doa menyusul seperti butiran tasbih yang jatuh satu demi satu. Kata-kata Fii Amanillah mengalir, membawa aroma ketulusan dari keluarga besar Bani Usman. Doa-doa itu terasa seperti jubah pelindung yang tak kasat mata, memohonkan keselamatan, kesehatan, dan kelancaran hingga kami kembali ke tanah air dengan predikat haji dan hajah yang mabrur.

Harapan mereka begitu jernih: agar kami sehat selamat, dimudahkan dalam setiap rangkaian ibadah, dan agar mereka sekeluarga pun kelak bisa segera menyusul untuk melaksanakan umrah bersama. Setiap huruf yang terbaca di layar ponsel siang itu seolah menjelma menjadi energi baru, menguatkan raga yang mulai lelah dan memantapkan hati untuk melangkah menuju Baitullah. Di tengah hiruk-pikuk asrama, pesan-pesan itu adalah bekal batin yang paling berharga.


No comments:

Post a Comment